Showing posts with label Stokiometri. Show all posts
Showing posts with label Stokiometri. Show all posts

Tuesday, 9 March 2010

Hukum dan Perhitungan Dasar Stokiometri


A. Hukum Kekekalan Massa (Hukum Lavoisier)

"massa zat sebelum reaksi sama dengan massa sesudah reaksi"

misalnya :

sebanyak 5,6 g  N2 direaksikan dengan O2 menghasilkan nitrogen (III) oksida sebanyak 15,2 g berarti berapakah massa O2 yang bereaksi ?

angka romawi 3 dalam nitrogen (III) oksida menunjukkan muatan N = +3
(bukan menunjukkan jumlah N nya 3) sehingga bila direaksikan dengan O yang muatannya = -2, agar total muatannya sama maka N dikalikan 2 (+3.2 = +6) dan O dikalikan 3 (-2.3 = -6) dan bila digabung menjadi N2O3 dengan muatan total nol (+6 - 6 = 0)

N2O3 juga punya nama lain yakni dinitrogen trioksida (pelajari selengkapnya dalam tata nama ikatan kovalen)

jawab :

N2 + O2 ---> N2O3 

massa sebelum reaksi = massa setelah reaksi

massa N2 + massa O2 = massa N2O3  
sehingga massa N2 = 15,2 g - 5,6 g = 9,6 g

jadi bila ada satu massa zat yang belum diketahui sedangkan massa zat lain di kedua sisinya diketahui maka massa zat tersebut dapat dicari dengan "Hukum Kekekalan Massa"

soal di atas berbeda dengan soal berikut ini :

sebanyak 5,6 g  N2 direaksikan dengan 8 g O2 menghasilkan nitrogen (III) oksida, berapakah massa nitrogen (III) oksida yang terbentuk ?

pada reaksi ini teteap mengikuti "Hukum Kekekalan Massa" namun belum tentu zat2 yang direaksikan habis bereaksi......

mol N2 = massa N2/Mr N2 = 5,6/28 =  0,2
mol O2 = massa O2/Mr O2 = 8/32 = 0,25

                                  N2 + O2 ---> N2O3 

disetarakan menjadi :

                                     2 N2        +        3 O2    --->       2 N2O3

Mula2                  0,2 mol          0,25 mol                 -
Reaksi                 0,167 mol      0,25 mol        0,167 mol   
Setimbang           0,033 mol              -            0,167 mol                 

0,167 mol diperoleh dari kebutuhan mol N2 jika 0,25 mol O2 nya habis bereaksi, mol N2 = 2/3 . mol O2 = 0,5/3 mol, kemudian dijadikan desimal dan dibulatkan menjadi 0,167 mol

sekarang mengapa yang habis bereaksi O2 nya?
jika O2 habis N2 masih tersisa 0,03 mol (sisa reaksi mungkin terjadi...) sedangkan jika 0,2 mol N2 habis maka
O2 yang dibutuhkan = 3/2 . mol N2 = 3/2 . 0,2 = 0,3 mol....sedangkan O2 yang tersedia hanya 0,25 mol (maka hal ini tidak mungkin terjadi...)
kembali ke penyelesaian soal,

massa N2O3 yang terbentuk = mol N2O3 . Mr N2O3 = 0,167 . 76 = 0,5/3 . 76 =  12,67 g  atau tepatnya 12 2/3 g
(mol N2O2 sebesar 0,167 dijadikan dalam bentuk asalnya dalam pecahan agar didapat nilai yang lebih akurat....ingat 0,167 merupakan pembulatan)

jika ditanya massa sisa reaksinya ? 

reaksi di atas menyisakan 0,033 mol N2
massa sisa N2 = mol sisa N2 . Mr N2 = 0,033 . 28 = 0,93 g 
atau dapat dicari dengan :
massa sisa N2 = massa N2 dan O2 sebelum reaksi - massa N2O2 setelah reaksi = 13,6 - 12,67 = 0,93 g

catatan  : mol sisa N2 sebesar 0.033 mol jangan kalian bulatkan menjadi 0,3 mol karena massa N2 yang diperoleh akan berbeda..... atau sebaiknya sejak awal semuanya dihitung dalam bentuk pecahan) 

B. Hukum Perbandingan Tetap (Hukum Proust)

"Perbandingan massa unsur-unsur penyusun suatu senyawa selalu tetap"

Hasil Eksperimen Proust dalam pembentukan Air :


Dari tabel di atas terlihat, bahwa setiap 1 gram gas hidrogen bereaksi dengan 8 gram oksigen, menghasilkan 9 gram air. Hal ini membuktikan bahwa massa hidrogen dan massa oksigen yang terkandung dalam air memiliki perbandingan yang tetap yaitu 1 : 8

Contoh Soal :
Perbandingnan, massa Fe : massa S = 7 : 4, untuk membentuk senyawa besi sulfida. Bila 30 gram besi (Fe) dan 4 gram belerang (S) dibentuk menjadi senyawa besi sulfida, berapa gram massa besi sulfida (FeS) yang dapat terjadi?

Perbandingan massa Fe : massa S = 7 : 4
Bila semua unsur Fe habis, maka S diperlukan = 4/7 . 30 = 17,1 gram
Hal ini tidak mungkin, sebab hanya tersedia 4 gram S. Jadi yang habis membentuk senyawa adalah unsur S, seberat 4 gram.
Maka :
  • Fe yang diperlukan = 7/4 . 4 gram = 7 gram

  • Massa FeS yang terjadi = 7 gram + 4 gram = 11 gram

  • Besi (Fe) yang tersisa = ( 30 – 7 ) gram = 23 gram


    C. Hukum Perbandingan Berganda (Hukum Dalton)

    “Bila dua unsur dapat membentuk lebih dari satu senyawa, dimana massa salah satu unsur tersebut tetap (sama), maka perbandingan massa unsur yang lain dalam senyawa-senyawa tersebut merupakan bilangan bulat dan sederhana”

    1. Nitrogen dan oksigen dapat membentuk senyawa-senyawa N2O, NO, N2O3, dan N2O4 dengan komposisi massa terlihat pada tabel berikut :


    Dari tabel tersebut, terlihat bahwa bila massa N dibuat tetap (sama), sebanyak 7 bagian  maka perbandingan massa oksigen dalam:

    N2O : NO : N2O3 : N2O4 = 4 : 8 : 12 : 16 atau 1 : 2 : 3 : 4

    2. Komposisi dua sample A dan B setelah dianalisa ternyata hanya mengandung atom karbon dan oksigen. Hasil analisa dapat dilihat pada tabel berikut :

     

    Karbon : Oksigen , pada senyawa A =  4 : 11 (dibulatkan sama2 dibagi 1/4)
    Karbon : Oksigen , pada senyawa B  =  4 : 6 (dibulatkan sama2 dikali 2/3)

    sehingga perbandingan oksigen dalam kedua senyawa = 11 : 6
    atau dibulatkan 2 : 1 kesimpulannya kedua senyawa mengikuti hukum dalton.
    Bila ditanyakan senyawa yang mungkin terbentuk maka masing massa harus kalian bagi dengan Ar nya masing2 dan dibuat perbandungannya,

    Karbon : Oksigen , pada senyawa A =  (16,56/12) : (44,18/16) = 1,38 : 2,76 = 1 : 2 (sama2 dibagi 1,38)
    Karbon : Oksigen , pada senyawa B  =  (6,63/12) : (8,84/16) = 0,55 :  0,55 = 1 : 1

    berarti senyawa A  adalah CO2 dan senyawa B adalah CO

    kesimpulannya  :

    • untuk membuktikan kesesuaian senyawa2 yang mungkin terbentuk dari penggabungan dua unsur dengan hukum dalton dibuat perbandingan massa atau perbandingan % massa (dibuat pemisalan 100% = 100 g) kemudian mengkuti langkah2 seperti yang telah di jelaskan di atas

    • untuk mengetahui rumus molekul senyawa  ada dua cara, yang pertama  menggunakan perbandingan mol (massa/Ar) seperti contoh di atas dan cara yang kedua  menggunakan hukum proust tentang perbandingan tetap jika diketahui perbandingan massa dalam senyawanya diketahui.


    D. Hukum Perbandingan Volume (Gay Lusssac)

    “ Pada suhu dan tekanan yang sama perbandingan volume gas-gas yang bereaksi dan hasil reaksi berbanding sebagai bilangan bulat “



    perbandingan volume dalam reaksi gas2 di atas sesuai dengan prbandingan koefisien reaksinya...sebagai contoh :

    3 N2 + H2 --->  2 NH3   maka perbandingan koefisiennya = 1 : 3 : 2  

    bila N2 yang direaksikan 2 liter maka diperlukan H2 sebanyak = 3/1 . 2 liter = 6 liter (3/1 diperoleh dari perbandingan koefisiennya)
    dan NH3 yang terbentuk = 2/1 . 2 liter = 4 liter

    kesimpulannya :

    Dalam reaksi antar gas2 untuk mencari volume gas2 yang bereaksi menggunakan perbandingan koefisien reaksinya (tidak perlu mencari mol)

    Monday, 8 February 2010

    Soal-soal Stokiometri



    Setelah kita mengenal rumus-rumus dalam stokiometri maka sekarang kita terapkan dalam beberapa contoh soal berikut. dengan contoh-contoh soal di bawah ini diharapkan menjadi lebih paham dengan stokiometri..... 

    1. Besi (III) Oksida mengandung 28 g Fe berapa massanya?
    Besi (III) oksoda à Fe3+ + 3O2- --> Fe2O3

    Massa Fe  =  2 . Ar Fe   x g Fe2O3
                          Mr Fe2O3

    Friday, 5 February 2010

    Rumus-rumus Umum dalam Stokiometri


     Banyak siswa yang mengeluhkan materi stokiometri saat akan menghadapi ujian, saat mereka mempelajari materi tersebut seakan-akan telah menguasainya tetapi saat dihadapkan dengan soal ujian materi tersebut kok jadi gag bisa ya? hal ini karena materi ini disampaikan pada akhir semester satu di kelas 1 SMA  dan karena materinya banyak (maksudnya sebenarnya perlu banyak latihan soal2nya....) kadang2 hanya disampaikan separuh dan separuhnya lagi disampaikan saat semester dua.
    sekilas materi stokiometri ini sudah dibahas dalam 2 semester sehingga menjadikan siswa lebih paham, namun karena sebenarnya penyampaian materi pada akhir semester satu saat pertemuan kelas tinggal sedikitl agi dan dikejar deadline ujian akhir semester menjadikan materi ini biasanya disampaikan secara cepat dan saat semester dua lanjutannyapun dibahas secara cepat karena ingin cepat2 ganti materi lain yang memang baru disampaikan pada semester dua tetapi tertunda dengan penyampaian materi stokiometri...........
    sebenarnya inti dari materi stokiometri tidaklah terlalu banyak namun yang diperlukan disini adalah memperbanyak latihan soal sehingga menjadi lebih paham. secara singkat materi stokiometri terdiri dari  :

    A. KONSEP MOL
    1. Mol  =        gram
                     Ar atau Mr
    2. Mol =    jumlah partikel
                          6,02 x 1023
        Jumlah partikel = molekul/ion/atom
    3. Mol =       volume
                          22,4 L     (dalam keadaan STP)
        bila tidak dalam keadaan STP (00C,1 atm) 
                     Mol 1   =   volume 1
                     Mol 2        volume 2
    4. Mol =    M x V
        M     =     Mol
                         V
        M     =   konsentrasi (M)
        V     =   volume (L)
    Langkah-langkah perhitungan :
    Untuk menghubungkan rumus yang satu dengan rumus yang lainnya selalu dirubah dalam bentuk MOL

    B. RUMUS KIMIA
    1. Rumus Empiris
    Rumus empiris adalah rumus yang menyatakan perbandingan terkecil atom-atom yang menyusun suatu senyawa
    Langkah-langkah perhitungan :
    Perbandingan atom-atom penyusunnya sama dengan perbandingan massa  (gr) atau persen massa yang dibagi dengan Ar nya masing-masing
    2. Rumus Molekul
    Rumus molekul adalah rumus yang menyatakan jumlah atom-atom sebenarnya yang menyusun suatu senyawa
    (Mr rumus empiris) x  = Mr rumus molekul
    X = kelipatan

    C. HUKUM PERBANDINGAN TETAP (PROUST)
    Hukum perbandingan tetap dalam AxBy :
    massa A      =   x.Ar A
    massa B            y.Ar B
      massa A      =     x.Ar A
    massa AxBy        Mr AxBy
    %A  =        x.Ar A    x  100%
                     Mr AxBy
    %A  =         massa A     x  100%
                    massa AxBy

    D. PERSAMAAN REAKSI
    Koefisien reaksi menyatakan perbandingan mol zat-zat dalam reaksi
    Jika mol-mol zat yang direaksikan tidak sebanding, mol zat yang digunakan adalah mol yang jika dibagi dengan koefisiennya hasilnya paling kecil

    Reaksi pembakaran senyawa organik  :
    CxHy + (x + ¼ y) O2  -->  x CO2 + ½ y H2O
    mol O2 : mol CO2 : mol H2O = (x + ¼ y) : x : ½ y

    Pemanasan seny. hidrat(mengandung air)
    Senyawa.xH2O  -->  Senyawa  +  xH2O
    X  =        mol H2O
              mol Senyawa

    E. HUKUM GAS
    RUMUS :       PV   =   nRT
    P  =  tekanan (atm)
    V  =  volume (L)
    n  =   mol zat
    R  =  0,0082
    T  =  suhu (0K),  x0C  =  (x + 273)0K

    Koefisien reaksi = perbandingan volume